Kamis, 14 Juli 2016

Masukilah Keabadian Itu.

Di mana saja kau berada,
apa pun keadaanmu, cobalah selalu menjadi seorang pecinta yang senantiasa dimabuk oleh kasih-Nya.

Sekali kau dikuasai oleh kasih-Nya,
maka kau akan hidup menjadi seorang pecinta yang hidup bagaikan dalam pusara.

Dan kau akan tetap hidup
hingga hari kebangkitan itu tiba,
lantas kau pun akan dibawa ke dalam surga dan hidup kekal selamanya.

Namun,
jika kau belum menjadi seorang pecinta,
maka pada hari pembalasan seluruh pahalamu tidak akan dihitung.

Setiap penglihatan tentang keindahan akan lenyap.
Setiap perkataan yang manis akan memudar.
Namun, janganlah kau berputus asa,
karena mereka semua datang dari sumber yang sama, dari Keabadian.

Masukilah Keabadian itu,
maka kau akan melihat segala sesuatu tumbuh dan berkembang,
memberi hidup baru dan kegembiraan baru bagimu. [Rumi]

Sabtu, 09 Juli 2016

4

Aku tidak pernah berharap seseorang bahagia sedalam ini sebelumnya. Aku tidak tahu bagaimana seseorang bisa membuatku sekhawatir ini... tentang apa yang dia pikirkan, tentang apa yang dia rasakan, tentang bagaimana dia bisa bertahan sekian lama.

Tidak ada yang bisa kutanyai selain hujan yang tidak juga khatam membingkai dari sepeninggalan senja. Dasar manusia, tempat keluh tentang terik busung kemarau dan guyur air dari langit tanpa henti. Barangkali hujan berjanji untuk tidak pulang, sedang aku di sini masih setia mengeja rintiknya untuk dijadikan puisi rayuan.

Aku tidak akan menceritakan bagaimana cuaca dan rencananya, juga perihal senja yang menahan muak dibuai sajak para pujangga. Aku hanya sedang dilanda senyap yang menyeranta dalam detak berkalang asa. Sampai ada seseorang yang jengah menyapaku yang terlalu lemah. Sebab rewel rindu remehku terlalu mengganggunya. Barangkali itu saja, sebab aku tak pernah mampu menjelaskan makna tatap nan menghujam palung mata untuk sekian kali kami berjumpa.

Tidak seperti langit yang lupa kapan hujan pernah datang, aku masih mengingat kapan dia menangis begitu dalam. Bagaimana dia menahanku yang pergi lantaran tidak tahan. Bagaimana setiap luka ku buat semena-mena padanya yang kembali setelah dengan niat baik.

Tidak ada jarak yang lebih jauh selain ketika kau menggenggam tangan seseorang namun dia berkata bahwa hatinya tidak lagi di sana. Ku kira aku hanya perlu sedikit diam, berdoa, dan menyingkir perlahan-lahan. Atau justru mematut tindak tanpa kesepakatan. Sebab segalanya bisa dia dapatkan. Masakan yang bisa dia beli dimanapun dia ingin makan. Pakaian yang bisa dia bawa ke jasa cuci tanpa perlu menunggu jeruman karena hujan.  Dan semua fasilitas dari orangtuanya entah itu rumah, mobilnya atau apalah. Sementara aku? Terlalu sering aku mendengar keluhnya. Sesering itulah aku gagal memberi kebahagiaan. Aku percaya Tuhan Maha Tahu sekecil apapun harapan dibalik sepasrah-pasrahnya manusia pada keadaan.

Aku tidak pernah berharap seseorang bahagia sedalam ini sebelumnya. Sebab aku tidak pernah mencintai seseorang seperti ini dahulunya.


Sabtu, 21 Mei 2016

Andai Karl Marx Bangkit Lagi: HAM dan Pasar Tumpah

Inti sari dari Das Kapital jilid satu sampai tiga karya Karl Marx, Mbah Komunisme dunia, yaitu: kapital, modal atau apapun istilah lainnya adalah sumber malapetaka, sumber penghisapan manusia. Dan negara ada untuk melayani kepentingan modal.

Masih menurut Marx dalam Manifesto Komunis: Tidak ada jalan lain untuk menghentikan sumber penghisapan itu kecuali mengalahkan dan menghancurkannya; Pokoknya, sekali lagi pokoknya, lawan itu Kapitalis!

Dalam perjalanannya, seruan itu telah melahirkan banyak varian gerakan. Mulai dari kiri benaran, kiri tengah, kiri-pinggiran, kiri kekini-kinian, sampai kiri-kanan ok. Hahaha..jadi teringat Rudi, teman saya yang pernah Kiri itu, saban hari kerjaannya melototi fluktuasi pergerakan harga saham.

Sadar atau tidak, seruan Karl Marx itulah yang kerap kita pakai untuk menghitam-putihkan sebuah peristiwa ekonomi-politik yang terjadi. Pendekatan kelas dan analisis struktural ini digunakan kalangan NGO atau gerakan sosial lainnya.

Misal menganggap mereka yang mendukung relokasi pasar sebagai kelompok anti HAM. Menuduh pembangunan kota hanya untuk orang kaya.

Saking asyiknya menuduh sana-sini, akhirnya kita lupa ukuran “HAM” itu seperti apa? Apakah membiarkan pedagang  jualan dijalan raya yang notabene tempat kendaraan berlalu lalang setiap hari? ataukah membiarkan kota dengan jalanan kumuh dan atau membiarkan pedagang berjualan disembarang bagian penghormatan pada nilai HAM? Konyol memang.

Bila kita menganjurkan pedagang dikuatin teknologinya. Ehh..di ujung meja sana sudah ada yang berteriak: “Jangan ajarkan tata cara berbisnis terbaru nanti merusak kearifan lokal.” Halaa, yang berteriak itu, sementara mengunakan alat produksi terbaru, macbook, tanpa pernah diteriaki akan merusak kearifan mesin ketik. hahahaha

Sabtu, 09 April 2016

Pelabelan dan Emansipasi Perempuan

Betapa menyenangkannya menjadi perempuan. Perempuan selalu bebas mengunggah foto selfie dan membicarakan banyak hal sana-sini. Perempuan leluasa mengeluh dan membuat drama di media sosial pribadi. Perempuan bisa memonyong-monyongkan bibir dan berpose kepala miring dengan alis yang telah dibentuk sedemikian rumitnya. Perempuan marah bila digoda dan dilecehkan namun bebas mencuri perhatian dengan menyembulkan sedikit belahan dada sampai dipuja-puja di lini masa. Perempuan seolah punya banyak pembenaran untuk marah dan menangis dengan alasan klise yang mengintimidasi ketidak-pekaan kaum laki-laki.

Bagaimana menjadi laki-laki? Seorang laki-laki memiliki batasan dalam berekspresi. Kami akan berpikir berkali-kali untuk melakukan hal yang sama demi mempertahankan kadar maskulin. Kami lebih memilih bersikap kalem meski pikiran dan hati porak poranda, bahkan terkesan tidak peduli.

Seperti inikah emansipasi? Tentu tidak demikian. Raden Ajeng Kartini sebagai simbol perjuangan wanita Indonesia merasa bahwa dirinya harus memperbaiki derajat perempuan agar tidak lebih rendah daripada kaum laki-laki. Perjuangan ini berkaitan dengan aspek pendidikan, ekonomi, sosial, dan banyak aspek lain namun lain halnya dengan penilaian perempuan terhadap laki-laki. Perempuan tidak bisa semena-mena mengeluhkan banyak hal tentang seorang laki-laki hanya karena sikap mereka yang tidak sesuai dengan ekspektasi.

Jika perempuan mengunggul-unggulkan tagline "Perempuan selalu benar", bagaimana dengan deretan kasus yang menjerat beberapa perempuan?

Sedikit memutar waktu ke tahun 2011, ketika tersiar kabar tiga perempuan di Zimbabwe telah memperkosa belasan pria. para laki-laki tersebut ditawarkan untuk menumpang mobil, tetapi kemudian dibius dan dibawa ke tempat-tempat terpencil oleh para perempuan itu. Mereka dipaksa untuk melakukan hubungan seks dengan para perempuan itu, tanpa mengunakan kondom, dan di bawah todongan senjata. Para pemerkosa (perempuan) kemudian mengumpulkan sperma korban, lalu menurunkan mereka di pinggir jalan.

Yang paling hangat mungkin kontroversi Zaskia Gotik dengan leluconnya mengenai lambang negara yang mengajarkan bagaimana menghibur secara beretika dan membuka mata khalayak bahwa menjadi perempuan tidak hanya harus cantik.

Perempuan tidak melulu harus merasa benar tentang segala hal. Perempuan tidak hanya mampu sekedar memamerkan deretan tas-tas branded, menceritakan kisah sedih, menghujani sosial media dengan deretan kata bijak dan kemolekan tubuhnya tanpa dasar pemikiran luas. Tentu bukan sekedar peringatan hari lahir Rajeng Ajeng Kartini dengan berkebaya saja, melainkan bagaimana setiap perempuan mampu menjadikan dirinya hal yang berharga. Jadilah perempuan cerdas, dek! Kamu adalah rahim dari kemajuan bangsa.

Sabtu, 07 Februari 2015

Aku dan Joko

Menyesap sari puisi-puisi terbaru Joko Pinurbo, menyadarkan saya, bahwa hidup terlampau angkuh–angkuh yang kosong bila tidak dapat menikmati puisi. Membaca puisi-puisi ini juga meringankan tekanan yang dialami akal budi, karena selama seminggu ia didera kewajiban untuk selalu berpikir dan melepaskan diri dari hasrat untuk melepaskan diri. Pada hari minggu, ditemani delapan puisi-puisi tersebut, terbaring di ranjang, tanpa tuntutan ataupun rencana yang mengatasnamakan kebaikan bersama, saya membaca puisi-puisi ini perlahan-lahan. Seperti notasi didalam komposisi Puccini yang harus didengarkan dengan sabar, dan tanpa pretensi intelektual omong kosong.
Jadi demikian cara saya menikmati puisi-puisi Joko Pinurbo, dua kali caranya saya menikmati mereka. Sekali waktu, pertama kali waktu, yang tidak mungkin diulang kembali, adalah sebagai seorang pecinta puisi sederhana. Pengalaman sekali waktu itu, pada hari minggu yang agak mendung tidak mungkin saya ulang, dan pengalaman itu milik saya sendiri, secara serakah hanya saya yang tahu bagaimana rasanya bercumbu dengan mereka. Kedua kalinya adalah ketika saya menulis esai ini, yang sesungguhnya suatu upaya untuk menangkap jejak-jejak cumbuan tersebut, yang kemungkinan tidak akan mampu menangkap kesempurnaan pengalaman pertama dan langsung tersebut. Tetapi, akan saya usahakan.
Menulis esai ini sejatinya membelah kesadaran saya, karena pada satu sisi ada bagian dari diri saya yang ingin mendekap pengalaman bersama puisi-puisi itu tanpa harus mencampurinya (apalagi mengeringkannya) dengan filsafat, tetapi ada gairah dalam diri saya untuk membedah yang indah tersebut. Untuk keperluan apa? Tentunya untuk mengetahui puisi tersebut secara radikal. Betapa keji sesungguhnya proses apresiasi puisi itu, karena saya harus menguliti mereka, memotongnya dan meletakannya di bawah mikroskop. Lebih buruknya lagi, disiplin tafsir filsafat Barthesian mengatakan bahwa pengarang sudah mati. Pembedahan terhadap puisi-puisi itu mengharuskan saya terlebih dahulu membiarkan Joko Pinurbo mati, kalau ia tidak mati juga, saya harus membunuhnya, paling tidak di dalam ruang pikiran pembedahan filosofis itu.
Beruntung, saya bukan pengikut Roland Barthes, dalam pembedahan ini cakrawala saya dan Joko Pinurbo (yang masih hidup) dimungkinkan untuk bersatu, pada suatu peristiwa, ada kemungkinan pemaknaan saya dan Joko Pinurbo melebur membentuk fusi tersendiri. Baiklah, saya telah memaparkan motif, juga cara mengamati puisi-puisi tersebut, tidak terkecuali betapa pongahnya filsafat yang berusaha mengerti puisi, tetapi dalam segala keterbatasan yang telah saya paparkan– inilah yang dapat saya sampaikan tentang puisi-puisi Joko Pinurbo;
Puisi yang berjudul Buku Latihan Tidur meninggalkan kesan yang begitu mendalam. Puisi ini semakin meyakinkan saya betapa penyair–mungkin tidak semuanya, tetapi penyair anarkis seperti Joko Pinurbo memiliki keahlian menggunakan kosa kata yang ingin melompat dari makna kesehariannya. Dalam puisi Buku Latihan Tidur, khususnya pada bagian;
“Rajin pangkal pandai.
Jatuh pangkal bangun.
Anak kucing lari-lari.
Anak hujan mencari kopi.
Hujan menghasilkan banjir.
Hujan melahirkan pelukan-pelukan yang berbahaya.
Mandilah sebelum dingin tiba.
Cantiklah sebelum lipstik tiba.
Mataharimu terbit dari timur.
Matahariku terbit dari matamu.”
Joko Pinurbo menggunakan kata-kata; pangkal, anak, hujan, matahari dan menunjukan bagaimana pemaknaan mereka berubah dalam kalimat-kalimat yang berbeda. Bagaimana mereka digunakan dalam konteks percakapan biasa, dibandingkan dengan bagaimana drastisnya ketika digunakan untuk tujuan yang puitis. Hujan menghasilkan banjir, tetapi hujan pun melahirkan pelukan-pelukan berbahaya. Reaksi seorang empiris akan langsung menghakimi bahwa memang betul hujan yang menyebabkan banjir, tetapi apakah hujan melahirkan pelukan-pelukan berbahaya? Saya tersenyum membaca baris ini, karena terlintas dipikiran saya alangkah kesepiannya mereka yang tidak memahami bagaimana hujan dapat melahirkan pelukan yang berbahaya.
Sebagian penyair terobsesi menenggelamkan diri didalam metafora, seperti halnya pesolek yang berdandan terlalu menor. Berbeda dengan Joko Pinurbo, yang nampak romantis tanpa hendak mencekik pembaca dengan kata-kata galau picisan. Puisi Jalan Kecantikan contohnya, dengan baris kata-kata seperti,– “Kau kecantikan yang bergerak, di jalan-jalan yang tak ada dalam peta” Kecantikan yang ditulis seorang Joko Pinurbo, tidakkah mengingatkan hati tentang cinta pertama? Dimana segala sesuatunya asing, baru dan murni. Cantik yang tidak perlu gincu atau sepatu, cinta yang kekanak-kanakan dan polos. Tidakkah hati merindukan cinta dan cantik yang seperti itu? Puisi ini adalah mesin waktu yang mengingatkan, masa ketika hati yang tulus tanpa pengalaman, hati yang belum mengenali memar yang diakibatkan oleh cinta. “Kecantikan yang membangkitkan dari mati.” Ingatkah bagaimana sesuatu yang begitu indah memberikan kita ruh kehidupan? Tetapi tentunya, karena pengalaman akan cinta pertama itu mustahil dilalui kembali, Joko Pinurbo menunjukan jejaknya, artefak terbaiknya, kata-kata.
Puisi yang berjudul Punggungmu bergema di pikiran saya, khususnya disaat berkendara pulang kerja, berbagi rasa letih, frustasi dan kemacetan bersama dengan jutaan warga Jakarta lainnya. Orang memang menderita di Jakarta, seperti yang disampaikan oleh Joko Pinurbo,
“Ibu kota Jakarta adalah punggungmu.
Punggung yang sabar menanggung beban
kerjamu,
bangun pagimu,
pulang malammu,
perjalanan macetmu,
pegal-pegalmu,
masuk anginmu,—“
Saya membayangkan Jakarta seperti mesin urban, yang digerakan oleh hasrat punggung-punggung yang letih. Gerak punggung-punggung itu mekanistis, melalui hari-hari tanpa menyadari matahari di angkasa, sebab beban menggelayuti punggung mereka. Puisi Joko Pinurbo menunjukan melankoli kota Jakarta, kepasrahan yang tidak terhindarkan, rasa lelah yang menjadi keniscayaan. Tetapi meski menderita, orang-orang ini tidak juga meninggalkan Jakarta.
Sepanjang waktu membaca puisi-puisi Joko Pinurbo, saya terngiang dengan filsafat bahasa, khususnya soal permainan kata dan makna. Menurut saya, permainan bahasa dan kreativitas tidak dapat dipisahkan. Kekuatan permainan bahasa dalam puisi Joko Pinurbo dapat dilihat dalam puisi “Pemeluk Agama”
“Halo, kamu seorang pemeluk agama?”
”Sungguh, saya pemeluk teguh, Tuhan.”
”Lho, Teguh si tukang bakso itu
hidupnya lebih oke dari kamu,
gak perlu kamu peluk-peluk.
Benar kamu pemeluk agama?”
Ada dua hal yang muncul dalam pikiran saya terkait puisi ini, hal yang pertama adalah bagaimana Joko Pinurbo menggunakan kata pemeluk, peluk dan teguh secara jenaka. Kesalahpahaman tentang teguh, dan keusilan sosok tuhan memiliki nilai humor yang sejatinya satir. Soal kedua yang menyita perhatian saya adalah betapa menyedihkannya dan menggelikannya kondisi beragama dewasa ini. Ada jurang pengertian dalam kata memeluk (yang biasanya sejoli dengan agama) yang maksudnya begitu intim, lalu bandingkanlah bagaimana perilaku para ekstremis yang merasa paling tahu agama. Jika agama hanya bisa dipeluk, mengapa kekerasan yang muncul dari pelukan itu? Apakah tepat mereka dikatakan beragama?
”Sungguh, saya pemeluk agama, Tuhan.”
”Tapi Aku lihat kamu gak pernah
memeluk. Kamu malah menyegel,
membakar, merusak, menjual
agama…”
Percakapan imajiner antara Tuhan dan Si Pemeluk Teguh Agama ini meyakinkan saya, bahwasanya, penyair memang memiliki relasi istimewa dengan Tuhan. Relasi yang tidak akan terjamah oleh orang biasa seperti saya, yang masih mempertentangkan akal dan iman (debat yang terlalu usang). Agama memang sedang kesepian, dan mungkin salah seseorang yang tahu cara memeluk agama—dari segelintir orang baik di dunia ini, adalah Joko Pinurbo.