Sabtu, 07 Februari 2015

Aku dan Joko

Menyesap sari puisi-puisi terbaru Joko Pinurbo, menyadarkan saya, bahwa hidup terlampau angkuh–angkuh yang kosong bila tidak dapat menikmati puisi. Membaca puisi-puisi ini juga meringankan tekanan yang dialami akal budi, karena selama seminggu ia didera kewajiban untuk selalu berpikir dan melepaskan diri dari hasrat untuk melepaskan diri. Pada hari minggu, ditemani delapan puisi-puisi tersebut, terbaring di ranjang, tanpa tuntutan ataupun rencana yang mengatasnamakan kebaikan bersama, saya membaca puisi-puisi ini perlahan-lahan. Seperti notasi didalam komposisi Puccini yang harus didengarkan dengan sabar, dan tanpa pretensi intelektual omong kosong.
Jadi demikian cara saya menikmati puisi-puisi Joko Pinurbo, dua kali caranya saya menikmati mereka. Sekali waktu, pertama kali waktu, yang tidak mungkin diulang kembali, adalah sebagai seorang pecinta puisi sederhana. Pengalaman sekali waktu itu, pada hari minggu yang agak mendung tidak mungkin saya ulang, dan pengalaman itu milik saya sendiri, secara serakah hanya saya yang tahu bagaimana rasanya bercumbu dengan mereka. Kedua kalinya adalah ketika saya menulis esai ini, yang sesungguhnya suatu upaya untuk menangkap jejak-jejak cumbuan tersebut, yang kemungkinan tidak akan mampu menangkap kesempurnaan pengalaman pertama dan langsung tersebut. Tetapi, akan saya usahakan.
Menulis esai ini sejatinya membelah kesadaran saya, karena pada satu sisi ada bagian dari diri saya yang ingin mendekap pengalaman bersama puisi-puisi itu tanpa harus mencampurinya (apalagi mengeringkannya) dengan filsafat, tetapi ada gairah dalam diri saya untuk membedah yang indah tersebut. Untuk keperluan apa? Tentunya untuk mengetahui puisi tersebut secara radikal. Betapa keji sesungguhnya proses apresiasi puisi itu, karena saya harus menguliti mereka, memotongnya dan meletakannya di bawah mikroskop. Lebih buruknya lagi, disiplin tafsir filsafat Barthesian mengatakan bahwa pengarang sudah mati. Pembedahan terhadap puisi-puisi itu mengharuskan saya terlebih dahulu membiarkan Joko Pinurbo mati, kalau ia tidak mati juga, saya harus membunuhnya, paling tidak di dalam ruang pikiran pembedahan filosofis itu.
Beruntung, saya bukan pengikut Roland Barthes, dalam pembedahan ini cakrawala saya dan Joko Pinurbo (yang masih hidup) dimungkinkan untuk bersatu, pada suatu peristiwa, ada kemungkinan pemaknaan saya dan Joko Pinurbo melebur membentuk fusi tersendiri. Baiklah, saya telah memaparkan motif, juga cara mengamati puisi-puisi tersebut, tidak terkecuali betapa pongahnya filsafat yang berusaha mengerti puisi, tetapi dalam segala keterbatasan yang telah saya paparkan– inilah yang dapat saya sampaikan tentang puisi-puisi Joko Pinurbo;
Puisi yang berjudul Buku Latihan Tidur meninggalkan kesan yang begitu mendalam. Puisi ini semakin meyakinkan saya betapa penyair–mungkin tidak semuanya, tetapi penyair anarkis seperti Joko Pinurbo memiliki keahlian menggunakan kosa kata yang ingin melompat dari makna kesehariannya. Dalam puisi Buku Latihan Tidur, khususnya pada bagian;
“Rajin pangkal pandai.
Jatuh pangkal bangun.
Anak kucing lari-lari.
Anak hujan mencari kopi.
Hujan menghasilkan banjir.
Hujan melahirkan pelukan-pelukan yang berbahaya.
Mandilah sebelum dingin tiba.
Cantiklah sebelum lipstik tiba.
Mataharimu terbit dari timur.
Matahariku terbit dari matamu.”
Joko Pinurbo menggunakan kata-kata; pangkal, anak, hujan, matahari dan menunjukan bagaimana pemaknaan mereka berubah dalam kalimat-kalimat yang berbeda. Bagaimana mereka digunakan dalam konteks percakapan biasa, dibandingkan dengan bagaimana drastisnya ketika digunakan untuk tujuan yang puitis. Hujan menghasilkan banjir, tetapi hujan pun melahirkan pelukan-pelukan berbahaya. Reaksi seorang empiris akan langsung menghakimi bahwa memang betul hujan yang menyebabkan banjir, tetapi apakah hujan melahirkan pelukan-pelukan berbahaya? Saya tersenyum membaca baris ini, karena terlintas dipikiran saya alangkah kesepiannya mereka yang tidak memahami bagaimana hujan dapat melahirkan pelukan yang berbahaya.
Sebagian penyair terobsesi menenggelamkan diri didalam metafora, seperti halnya pesolek yang berdandan terlalu menor. Berbeda dengan Joko Pinurbo, yang nampak romantis tanpa hendak mencekik pembaca dengan kata-kata galau picisan. Puisi Jalan Kecantikan contohnya, dengan baris kata-kata seperti,– “Kau kecantikan yang bergerak, di jalan-jalan yang tak ada dalam peta” Kecantikan yang ditulis seorang Joko Pinurbo, tidakkah mengingatkan hati tentang cinta pertama? Dimana segala sesuatunya asing, baru dan murni. Cantik yang tidak perlu gincu atau sepatu, cinta yang kekanak-kanakan dan polos. Tidakkah hati merindukan cinta dan cantik yang seperti itu? Puisi ini adalah mesin waktu yang mengingatkan, masa ketika hati yang tulus tanpa pengalaman, hati yang belum mengenali memar yang diakibatkan oleh cinta. “Kecantikan yang membangkitkan dari mati.” Ingatkah bagaimana sesuatu yang begitu indah memberikan kita ruh kehidupan? Tetapi tentunya, karena pengalaman akan cinta pertama itu mustahil dilalui kembali, Joko Pinurbo menunjukan jejaknya, artefak terbaiknya, kata-kata.
Puisi yang berjudul Punggungmu bergema di pikiran saya, khususnya disaat berkendara pulang kerja, berbagi rasa letih, frustasi dan kemacetan bersama dengan jutaan warga Jakarta lainnya. Orang memang menderita di Jakarta, seperti yang disampaikan oleh Joko Pinurbo,
“Ibu kota Jakarta adalah punggungmu.
Punggung yang sabar menanggung beban
kerjamu,
bangun pagimu,
pulang malammu,
perjalanan macetmu,
pegal-pegalmu,
masuk anginmu,—“
Saya membayangkan Jakarta seperti mesin urban, yang digerakan oleh hasrat punggung-punggung yang letih. Gerak punggung-punggung itu mekanistis, melalui hari-hari tanpa menyadari matahari di angkasa, sebab beban menggelayuti punggung mereka. Puisi Joko Pinurbo menunjukan melankoli kota Jakarta, kepasrahan yang tidak terhindarkan, rasa lelah yang menjadi keniscayaan. Tetapi meski menderita, orang-orang ini tidak juga meninggalkan Jakarta.
Sepanjang waktu membaca puisi-puisi Joko Pinurbo, saya terngiang dengan filsafat bahasa, khususnya soal permainan kata dan makna. Menurut saya, permainan bahasa dan kreativitas tidak dapat dipisahkan. Kekuatan permainan bahasa dalam puisi Joko Pinurbo dapat dilihat dalam puisi “Pemeluk Agama”
“Halo, kamu seorang pemeluk agama?”
”Sungguh, saya pemeluk teguh, Tuhan.”
”Lho, Teguh si tukang bakso itu
hidupnya lebih oke dari kamu,
gak perlu kamu peluk-peluk.
Benar kamu pemeluk agama?”
Ada dua hal yang muncul dalam pikiran saya terkait puisi ini, hal yang pertama adalah bagaimana Joko Pinurbo menggunakan kata pemeluk, peluk dan teguh secara jenaka. Kesalahpahaman tentang teguh, dan keusilan sosok tuhan memiliki nilai humor yang sejatinya satir. Soal kedua yang menyita perhatian saya adalah betapa menyedihkannya dan menggelikannya kondisi beragama dewasa ini. Ada jurang pengertian dalam kata memeluk (yang biasanya sejoli dengan agama) yang maksudnya begitu intim, lalu bandingkanlah bagaimana perilaku para ekstremis yang merasa paling tahu agama. Jika agama hanya bisa dipeluk, mengapa kekerasan yang muncul dari pelukan itu? Apakah tepat mereka dikatakan beragama?
”Sungguh, saya pemeluk agama, Tuhan.”
”Tapi Aku lihat kamu gak pernah
memeluk. Kamu malah menyegel,
membakar, merusak, menjual
agama…”
Percakapan imajiner antara Tuhan dan Si Pemeluk Teguh Agama ini meyakinkan saya, bahwasanya, penyair memang memiliki relasi istimewa dengan Tuhan. Relasi yang tidak akan terjamah oleh orang biasa seperti saya, yang masih mempertentangkan akal dan iman (debat yang terlalu usang). Agama memang sedang kesepian, dan mungkin salah seseorang yang tahu cara memeluk agama—dari segelintir orang baik di dunia ini, adalah Joko Pinurbo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar